Mendadak Teknologi

Semburan lumpur di Sidoarjo terus memakan korban. Sejumlah desa terbenam, jalan tol terganggu, ekosistem rusak serta menelan korban nyawa. Rudi Rubiandini, Ketua Tim Penghentian Lumpur Lumpur dari Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, menyebutkan hipotesa penyebab keluarnya lumpur adalah akibat pengeboran. Dipindahkannya rig sebelum lumpur susulan keluar, ditengarai sebagai satu-satunya penyebab semburan lumpur menjadi sedahsyat sekarang(Kompas, 04/08).

Siapa yang paling bertanggungjawab atas parahnya bencana lumpur Sidoarjo (selain faktor alam), pemilik Lapindo, BP Migas, Departemen ESDM, dan Kementerian Negara Lingkungan Hidup selaku pengawas, UU Migas, atau pemilihan teknologi? Jawaban atas pertanyaan ini bisa sangat kompleks. Seperti yang terungkap setelah ada desakan untuk menyelidiki penyebab bencana, sumur Banjar Panji-1 yang dikelola Lapindo amdalnya masih dalam bentuk draft dan Sukowati tidak menggunakan alat pemantau H2S(Kompas, 19/08). Hal ini mengindikasikan kurang kuatnya pengawasan oleh BP Migas dan KLH, serta penyimpangan yang dilakukan oleh Lapindo dalam menjalankan usaha. Selain itu, teknologi yang dipilih Lapindo serta bagaimana pengaruhnya terhadap kultur para pekerja juga menjadi catatan tersendiri. Apakah pemindahan rig sebelum lumpur susulan keluar terjadi akibat kesalahan SOP(Standard Operational Procedure) dalam pengoperasian teknologi ataukah karena faktor kelalaian manusia?

Teknologi Bebas Nilai?
Petunjuk pengoperasian suatu artifak teknologi telah lazim ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Saat membeli telepon genggam, mengoperasikan program komputer tertentu, memasak mie instan, dll. Sayangnya, banyak orang yang tidak suka membaca petunjuk pengoperasian tersebut. Alih-alih membaca, mereka lebih memilih mendapatkan informasi dari teman, atau bahkan sama sekali tidak peduli. Penggunaan telepon genggam misalnya, masih bekisar pada SMS, telepon, kamera, dan mendengarkan musik. Padahal perkembangan telepon genggam saat ini telah memungkinkan penggunanya untuk melakukan layanan internet, presentasi, memasukan jadwal kegiatan, serta pencatatan pengeluaran.

Dalam skala lebih luas, keengganan untuk membaca petunjuk pengoperasian sebuah artifak teknologi bisa berakibat fatal. Akibat ini bisa dikaji dari latar belakangnya, yaitu apakah teknologi tersebut hadir dari masyarakat itu sendiri atau hasil adopsi. Teknologi yang hadir dari masyarakat memiliki keterikatan dan sesuai dengan kultur setempat. Sebagai ilustrasi, pembuat tempe tradisional tidak pernah memiliki standar tertulis mengenai pembuatan tempe. Namun kekurangan ini tidak menghalangi pewarisan ‘teknologi tempe’ secara turun temurun yang terbukti efektif.

Teknologi hasil adopsi memungkinkan terjadinya salah pemanfaatan. Kesalahan ini bisa disebabkan oleh dua hal. Pertama, yang berkaitan dengan artifak teknologi itu sendiri, seperti penggunaan traktor di daerah yang daya dukung tanahnya rendah sehingga malah menimbulkan kerusakan. Kedua, berkaitan dengan kultur masyarakat. Internet masuk desa misalnya, memungkinkan masyarakat untuk memperoleh informasi secara bebas. Namun karena budaya baca masih rendah, internet yang sebenarnya dapat digunakan untuk meningkatkan taraf hidup mereka malah kembali menjadi teknologi konsumtif.

Adalah Alfred Nobel, seorang kimiawan, insinyur sekaligus inovator. Ia tak pernah menyangka dinamit yang ditemukannya untuk menyelamatkan usaha keluarga akan menjadi alat pembunuh manusia. Ketika saudaranya meninggal akibat ledakan di pabrik, sebuah koran menuliskan obituarinya karena menyangka Nobel-lah yang meninggal. Dalam obituari yang prematur tersebut, Nobel dituliskan sebagai “orang yang menjadi kaya dengan menemukan cara untuk membunuh manusia lebih cepat dari sebelumnya.”

Apa yang terjadi pada dinamit menunjukan artifak teknologi tak hanya memiliki satu tujuan, tak bebas nilai dan sangat bergantung pada siapa pengguna teknologi tersebut. Iskandar Alisjahbana dalam buku Menerawang Masa Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Seni dalam Perkembangan Budaya Masyarakat Bangsa Indonesia, menyebutkan sifat ini sebagai dialektik dari teknologi. Sifat ini mengindikasikan ketakterdugaan teknologi dari kehadiran awalnya.

Sebagaimana segala macam bentuk perubahan yang memungkinkan dampak positif dan negatif, begitu pula teknologi. Sejarah kehadiran mesin sebagai artifak teknologi memang hadir untuk mempermudah kehidupan manusia. Namun keberadaan sebuah teknologi tak pernah lepas dari nilai-nilai yang dianut oleh pembuatnya serta kultur masyarakat pengguna. Dikotomi ini tampak dari dua kubu pengkaji teknologi, yaitu materialis dan humanis. Kubu materialis memandang dinamit (benda material) akan menyebabkan penggunanya menjadi jahat. Sedangkan kubu humanis memandang dinamit adalah alat netral. Manusialah yang menentukan dinamit akan digunakan untuk kebaikan atau kejahatan.

Dengan menggunakan pandangan kubu materialis, kemajuan suatu masyarakat dapat dilakukan dengan menerapkan teknologi tinggi. Teknologi inilah yang akan memacu masyarakat untuk maju. Pandangan ini menempatkan manusia sebagai subjek yang dikendalikan oleh teknologi. Dalam kasus Lapindo, kesalahan terletak pada teknologi dan bukan pada manusia yang mengoperasikannya.

Kubu humanis sebaliknya, teknologi menjadi subjek yang dikendalikan oleh manusia. Teknologi yang sama dapat memberikan hasil berbeda, bergantung pada objek penggunanya. Kebiasaan untuk membaca dan mengikuti instruksi pada masyarakat berpendidikan tinggi misalnya, dapat menyebabkan pemanfaatan telepon genggam menjadi sangat berbeda. Begitu pula dalam pemilihan teknologi tinggi yang mempekerjakan orang-orang dari budaya yang tidak terbiasa membaca dan mengikuti instruksi, hasilnya adalah kekacauan. Entah itu kekacauan yang berkaitan dengan pembuatan UU Migas, prosedur perizinan yang kurang ketat sehingga bisa lolos meskipun belum memenuhi amdal, atapun ketiadaan alih teknologi.

Salah satu cara untuk mengintegrasikan kedua pandangan ini adalah dengan memandang teknologi tidak bebas nilai, sekaligus bergantung pada manusia. Sebagai ilustrasi, sifat destruktif yang ada pada pisau bisa digunakan untuk kebaikan maupun kejahatan. Bagi tukang masak, pisau berguna untuk memotong daging mentah menjadi bagian yang lebih kecil, sedangkan bagi penjahat, pisau berguna untuk menakut-nakuti atau melukai seseorang.

Pemilihan teknologi tinggi yang dilakukan oleh Lapindo, serta industri-industri besar di Indonesia memang memacu tingkat produksi. Namun selain produktivitas, penerapan teknologi tersebut juga berimplikasi pada kultur masyarakat. Orientasi industri pada alih produksi bukan alih teknologi membentuk kesenjangan antara teknologi tinggi dengan masyarakat pengguna. Kesenjangan ini menyebabkan masyarakat menjadi mendadak teknologi. Mendadak harus menggunakan traktor, mendadak harus memiliki telepon genggam yang berkamera, mendadak harus mengikuti sederetan instruksi agar dapat mengikuti ritme teknologi, dan pada akhirnya mendadak harus menghadapi kekacauan karena segalanya dilakukan dengan mendadak.[]

1 comment March 29, 2007

Previous Posts


Categories

Feeds