Image

Untitled

16 Dec

Untitled

Mendadak Teknologi

29 Mar

Semburan lumpur di Sidoarjo terus memakan korban. Sejumlah desa terbenam, jalan tol terganggu, ekosistem rusak serta menelan korban nyawa. Rudi Rubiandini, Ketua Tim Penghentian Lumpur Lumpur dari Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, menyebutkan hipotesa penyebab keluarnya lumpur adalah akibat pengeboran. Dipindahkannya rig sebelum lumpur susulan keluar, ditengarai sebagai satu-satunya penyebab semburan lumpur menjadi sedahsyat sekarang(Kompas, 04/08).

Siapa yang paling bertanggungjawab atas parahnya bencana lumpur Sidoarjo (selain faktor alam), pemilik Lapindo, BP Migas, Departemen ESDM, dan Kementerian Negara Lingkungan Hidup selaku pengawas, UU Migas, atau pemilihan teknologi? Jawaban atas pertanyaan ini bisa sangat kompleks. Seperti yang terungkap setelah ada desakan untuk menyelidiki penyebab bencana, sumur Banjar Panji-1 yang dikelola Lapindo amdalnya masih dalam bentuk draft dan Sukowati tidak menggunakan alat pemantau H2S(Kompas, 19/08). Hal ini mengindikasikan kurang kuatnya pengawasan oleh BP Migas dan KLH, serta penyimpangan yang dilakukan oleh Lapindo dalam menjalankan usaha. Selain itu, teknologi yang dipilih Lapindo serta bagaimana pengaruhnya terhadap kultur para pekerja juga menjadi catatan tersendiri. Apakah pemindahan rig sebelum lumpur susulan keluar terjadi akibat kesalahan SOP(Standard Operational Procedure) dalam pengoperasian teknologi ataukah karena faktor kelalaian manusia?

Teknologi Bebas Nilai?
Petunjuk pengoperasian suatu artifak teknologi telah lazim ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Saat membeli telepon genggam, mengoperasikan program komputer tertentu, memasak mie instan, dll. Sayangnya, banyak orang yang tidak suka membaca petunjuk pengoperasian tersebut. Alih-alih membaca, mereka lebih memilih mendapatkan informasi dari teman, atau bahkan sama sekali tidak peduli. Penggunaan telepon genggam misalnya, masih bekisar pada SMS, telepon, kamera, dan mendengarkan musik. Padahal perkembangan telepon genggam saat ini telah memungkinkan penggunanya untuk melakukan layanan internet, presentasi, memasukan jadwal kegiatan, serta pencatatan pengeluaran.

Dalam skala lebih luas, keengganan untuk membaca petunjuk pengoperasian sebuah artifak teknologi bisa berakibat fatal. Akibat ini bisa dikaji dari latar belakangnya, yaitu apakah teknologi tersebut hadir dari masyarakat itu sendiri atau hasil adopsi. Teknologi yang hadir dari masyarakat memiliki keterikatan dan sesuai dengan kultur setempat. Sebagai ilustrasi, pembuat tempe tradisional tidak pernah memiliki standar tertulis mengenai pembuatan tempe. Namun kekurangan ini tidak menghalangi pewarisan ‘teknologi tempe’ secara turun temurun yang terbukti efektif.

Teknologi hasil adopsi memungkinkan terjadinya salah pemanfaatan. Kesalahan ini bisa disebabkan oleh dua hal. Pertama, yang berkaitan dengan artifak teknologi itu sendiri, seperti penggunaan traktor di daerah yang daya dukung tanahnya rendah sehingga malah menimbulkan kerusakan. Kedua, berkaitan dengan kultur masyarakat. Internet masuk desa misalnya, memungkinkan masyarakat untuk memperoleh informasi secara bebas. Namun karena budaya baca masih rendah, internet yang sebenarnya dapat digunakan untuk meningkatkan taraf hidup mereka malah kembali menjadi teknologi konsumtif.

Adalah Alfred Nobel, seorang kimiawan, insinyur sekaligus inovator. Ia tak pernah menyangka dinamit yang ditemukannya untuk menyelamatkan usaha keluarga akan menjadi alat pembunuh manusia. Ketika saudaranya meninggal akibat ledakan di pabrik, sebuah koran menuliskan obituarinya karena menyangka Nobel-lah yang meninggal. Dalam obituari yang prematur tersebut, Nobel dituliskan sebagai “orang yang menjadi kaya dengan menemukan cara untuk membunuh manusia lebih cepat dari sebelumnya.”

Apa yang terjadi pada dinamit menunjukan artifak teknologi tak hanya memiliki satu tujuan, tak bebas nilai dan sangat bergantung pada siapa pengguna teknologi tersebut. Iskandar Alisjahbana dalam buku Menerawang Masa Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Seni dalam Perkembangan Budaya Masyarakat Bangsa Indonesia, menyebutkan sifat ini sebagai dialektik dari teknologi. Sifat ini mengindikasikan ketakterdugaan teknologi dari kehadiran awalnya.

Sebagaimana segala macam bentuk perubahan yang memungkinkan dampak positif dan negatif, begitu pula teknologi. Sejarah kehadiran mesin sebagai artifak teknologi memang hadir untuk mempermudah kehidupan manusia. Namun keberadaan sebuah teknologi tak pernah lepas dari nilai-nilai yang dianut oleh pembuatnya serta kultur masyarakat pengguna. Dikotomi ini tampak dari dua kubu pengkaji teknologi, yaitu materialis dan humanis. Kubu materialis memandang dinamit (benda material) akan menyebabkan penggunanya menjadi jahat. Sedangkan kubu humanis memandang dinamit adalah alat netral. Manusialah yang menentukan dinamit akan digunakan untuk kebaikan atau kejahatan.

Dengan menggunakan pandangan kubu materialis, kemajuan suatu masyarakat dapat dilakukan dengan menerapkan teknologi tinggi. Teknologi inilah yang akan memacu masyarakat untuk maju. Pandangan ini menempatkan manusia sebagai subjek yang dikendalikan oleh teknologi. Dalam kasus Lapindo, kesalahan terletak pada teknologi dan bukan pada manusia yang mengoperasikannya.

Kubu humanis sebaliknya, teknologi menjadi subjek yang dikendalikan oleh manusia. Teknologi yang sama dapat memberikan hasil berbeda, bergantung pada objek penggunanya. Kebiasaan untuk membaca dan mengikuti instruksi pada masyarakat berpendidikan tinggi misalnya, dapat menyebabkan pemanfaatan telepon genggam menjadi sangat berbeda. Begitu pula dalam pemilihan teknologi tinggi yang mempekerjakan orang-orang dari budaya yang tidak terbiasa membaca dan mengikuti instruksi, hasilnya adalah kekacauan. Entah itu kekacauan yang berkaitan dengan pembuatan UU Migas, prosedur perizinan yang kurang ketat sehingga bisa lolos meskipun belum memenuhi amdal, atapun ketiadaan alih teknologi.

Salah satu cara untuk mengintegrasikan kedua pandangan ini adalah dengan memandang teknologi tidak bebas nilai, sekaligus bergantung pada manusia. Sebagai ilustrasi, sifat destruktif yang ada pada pisau bisa digunakan untuk kebaikan maupun kejahatan. Bagi tukang masak, pisau berguna untuk memotong daging mentah menjadi bagian yang lebih kecil, sedangkan bagi penjahat, pisau berguna untuk menakut-nakuti atau melukai seseorang.

Pemilihan teknologi tinggi yang dilakukan oleh Lapindo, serta industri-industri besar di Indonesia memang memacu tingkat produksi. Namun selain produktivitas, penerapan teknologi tersebut juga berimplikasi pada kultur masyarakat. Orientasi industri pada alih produksi bukan alih teknologi membentuk kesenjangan antara teknologi tinggi dengan masyarakat pengguna. Kesenjangan ini menyebabkan masyarakat menjadi mendadak teknologi. Mendadak harus menggunakan traktor, mendadak harus memiliki telepon genggam yang berkamera, mendadak harus mengikuti sederetan instruksi agar dapat mengikuti ritme teknologi, dan pada akhirnya mendadak harus menghadapi kekacauan karena segalanya dilakukan dengan mendadak.[]

Neverland di Simpang Jalan

23 Mar

“Kopi, teh,” sapa Dani membuyarkan lamunan saya. Dengan menggelengkan kepala saya menepis tawaran Dani tersebut. Suasana pagi dengan mobil yang lalu lalang memang membuat saya sedikit mengantuk, hal yang juga dirasakan Dani, “Biasa teh, untuk ngusir ngantuk,” ujarnya sambil menyesap kopi hitam. Kopi dan pagi menjadi dua hal yang tak terpisahkan dari kehidupan pengamen di simpang. Berbekal uang seribu yang dikumpulkan bersama-sama, mereka biasa membagi segelas kopi untuk dua hingga empat orang. Tak jarang, kopi itu juga ditemani roti untuk mengganjal perut yang sebelumnya memang belum diisi.

Jalanan sudah tampak padat. Berbagai jenis mobil lalu lalang melewati perempatan simpang, begitu pula angkutan kota yang tampak dipadati penumpang. Pukul tujuh, lalu lintas memang cukup ramai, begitu pula trotoar yang dipenuhi orang bergegas. Keriuhan suasana pagi itu juga terasa di pinggir jalan, ada yang tengah sarapan, ada yang tengah beroperasi mencari seratus dua ratus rupiah di angkot, ada pula yang tengah latihan lagu baru. Ya, kehidupan pengamen di simpang Dago akan dimulai.

Dan aku mulai takut terbawa cinta, menghirup rindu yang sesakkan dada. Lagu Ruang Rindu milik Letto tersebut dilantunkan Obi untuk memikat penumpang angkot. Dengan gaya yang sudah terlatih, Obi kemudian menyodorkan gelas plastik ke penumpang. Perkenalan Obi dengan dunia pengamen dimulai semenjak ia duduk di kelas 1 SMA. Saat itu, ia mengamen belum sesering sekarang, hanya usai sekolah. Awal mula ketertarikannya untuk terjun pengamen adalah karena ia melihat profesi mengamen enak dan karena ada teman yang mengajak. Meski demikian, saat pertama kali mengamen di dekat Sumur Bandung, ia merasa malu. Perasaan itulah yang mendorong, pria tamatan SMA ini pindah tempat mengamen, yaitu agar ia tak perlu berpapasan dengan tetangga-tetangganya. Saat ini yang tahu statusnya sebagai pengamen baru mama, begitu ia memanggil ibunya, ”papa pergi pagi, taunya Obi pergi main.”

Hal senada juga diungkapkan oleh Dani ketika menceritakan pengalaman pertamanya mengamen pada tahun 1998. ”Awalnya grogi, tapi setelah satu dua kali jadi terbiasa. Dulu sih belum sesering sekarang, cuma untuk nyari ongkos aja.” Sebelum moneter tahun 1998, Dani bekerja kontrak di bidang pengiriman di Pulo Gadung. Namun sejak moneter, banyak pegawai yang dirumahkan, sejak itu pekerjaan jadi tinggal seminggu sekali. Daripada mengontrak rumah di Jakarta, dani lebih memilih ke Jakarta seminggu sekali, dengan ongkos hasil mengamen, lama kelamaan pekerjaan itu ditinggalkannya dan sepenuhnya menjadi pengamen di simpang.

Cerita tak berbeda jauh, muncul dari mulut Acil. Pria berusia 20 tahun lulusan SMP ini sudah 7 bulan menganggur. Sebelumnya ia sempat bekerja kontrak selama 2 tahun. Kini sambil menunggu panggilan, ia mengamen. Berbeda dengan pengamen lainnya di simpang yang memiliki alat musik sendiri, Acil biasa mengandalkan pinjaman gitar dari teman. Akibatnya, penghasilannya tak menentu, bahkan ia mengaku pernah dua hari hanya makan pohon kersen dan minum. Ketika ditanyakan mengenai pengaruh kenaikan BBM, ia menjawab, ”Sekarang yang ngasih makin dikit. Ngasihnya juga sayang, keliatan dari mukanya.” Saat ditanya mengapa ia memilih menjadi pengamen, ia menjawab segan untuk pulang ke orangtuanya di Cirebon. ”Tanggung aku sudah memasukan 6 lamaran. Nanti kalau dipanggil lewat telepon penjaga warung, aku ngga tau.”

Feri, pengamen dengan rambut bercat pirang berusia juga pernah kerja kontrak. Ia mengaku pernah menjadi koki di restoran Padang, ikut konveksi, pasang pipa AC, tapi sekarang kontrak-kontrak tersebut sudah habis hingga ia kembali ke jalan. ”Kalau mau kerja harus pake uang. Sekarang mah ada uang, pasti kerja,” ujarnya menceritakan bagaimana segala sesuatu bergantung pada uang.

Pada umumnya para pengamen di simpang Dago bagian jalan Dipati Ukur(mangkal di depan Circle K) sudah berkeluarga, berbeda dengan pengamen di jalan Dago yang didominasi anak-anak. Status ini membuat mereka bekerja tak hanya untuk kesenangan semata, tapi juga untuk memenuhi kebutuhan keluarga, ”kalau punya anak 5, ngga bisa nabung teh,” ujar Dani yang tinggal bersama nenek dan keluarganya.

Easy Money
Desakan ekonomi dan sulitnya memperoleh pekerjaan merupakan jawaban yang seringkali terlontar dari mulut pengamen di simpang Dago ketika ditanya alasan mereka mengamen. Namun jika memang tak ada pilihan, mengapa tak semua orang dengan kondisi tak memiliki ijazah, dan kecakapan khusus memilih jalan sebagai sumber mata pencaharian?

Mengamen lumayan menguntungkan. Itulah gambaran yang saya tangkap ketika mewawancarai beberapa orang pengamen di simpang Dago, terutama jika dibandingkan profesi-profesi lain yang memungkinkan, seperti penjual susu, atau roti dengan sistem bagi hasil dengan pemilik. Hasil dari pekerjaan tersebut, umumnya sama atau bahkan lebih rendah dibandingkan mengamen. Ada juga yang lebih memilih mengamen karena memang senang bernyanyi, dan suasana kebersamaan yang terjalin di antara mereka. Seperti yang diungkapkan oleh Adin, ”Saya mah asal ada uang untuk rokok dan kopi udah cukup.”

Berbekal suara dan alat musik, pengamen di simpang Dago dapat memperoleh 20-30 ribu per hari. Angka yang cukup menggiurkan dan menjadikan profesi pengamen cukup menjanjikan. Hal ini tercermin dari cerita Dani mengenai pasangan mahasiswa yang kini sudah tak lagi melanjutkan studi mereka akibat tak ada biaya, dan akhirnya berprofesi sebagai pengamen.

Jumlah penghasilan ini bergantung pada berbagai hal, diantaranya adalah alat musik, kelompok/perorangan dan lama mengamen. Menurut Obi, dibanding gitar, biola lebih menguntungkan. Begitupula kalau mengamen sendirian, ”Waktu dulu rame-rame, 2 gitar trus sekelompok sampai 5 orang, kalau sekarang Obi lebih memilih sedikitan. Buat apa cape-cape tapi dapetnya sedikit.”

Siapa cepat dia dapat merupakan etika yang berlaku diantara mereka dalam beroperasi mengejar target berupa angkot-angkot yang berhenti. Selama 1,5 menit lampu merah itulah para pengamen memainkan alat musiknya dan mengais rejeki dari para penumpang angkot. Kadang gelas bekas air mineral yang mereka sodorkan sama sekali tak berisi, kadang ada orang yang memberi seribu rupiah. Jika memperoleh seribu, biasanya mereka memamerkan hasil itu kepada teman-temannya dengan wajah sumringah.

Pengeluaran mereka cukup beragam. Dede dan Guntur masih bisa menabung dengan mengikuti arisan di Tubagus, Dani tiap hari memberi neneknya 5 ribu tapi mengaku sulit menabung karena biasa habis untuk membiayai keluarga, ada juga yang menabung untuk mencari kerja. Sehari-hari mereka biasa menggunakan uang untuk membeli kopi dan rokok. Sementara untuk makan siang ada beberapa pilihan dari masakan Padang yang seharga Rp 3000an, mie goreng Rp 2000, atau mie ayam Rp.2500. Selain makanan, yang terpenting adalah minum, apalagi bagi yang mengamen dengan bernyanyi, sehari bisa habis 6 gelas air mineral seharga 500, atau beli air bungkus dari warung masakan Padang.

Pandangan mereka atas profesi mereka sebagai pengamen, tampak dari petikan-petikan berikut,
Dani : ”Saya mah mau berubah. Semua yang disini juga gitu.”
Dede: ”Pengamen korban perasaan. Kalau ada pencurian suka jadi tertuduh.”
Adin : ”Kalau punya istri, saya pasti kerja. Ngamen mah untuk menghibur. Iseng.”
Obi : ”Daripada nganggur abis (selesai) sekolah. Dulu sih belum sesering sekarang.”

Bagi sebagian dari mereka, pengamen bukan sumber penghasilan satu-satunya. Dede, Acil, dan Agus misalnya, selain menjadi pengamen juga kerap dipanggil untuk mengisi acara di mall ataupun kegiatan lainnya. Format acaranya juga beragam, seperti undangan bagi Dede hari Selasa(13/02) di Plaza Dago yang bentuknya akustik. Untuk acara seperti itu, Dede diundang berempat dengan busana yang telah disediakan. Lain lagi Acil dan Agus yang kerap dipanggil dalam format band. Menurut Agus, selain dia tidak ada anggota band lainnya yang menjadi pengamen.

Reality Show
Harapan untuk mengubah keadaan terus ada. Salah satunya adalah dengan mengikuti kontes Indonesian Idol, sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Andri, pengamen berusia 20 tahun berambut ala Jay Chou. Untuk tahun ini Acil juga berniat mengikuti jejak temannya, ”Doain ya teh, tanggal 12,” ujarnya saat mengutarakan niatnya mengikuti audisi Indonesian Idol di Sabuga pada tanggal 12-13 Februari 2007. ”Aku udah ngecek tanggalnya di internet,” lanjutnya lagi.

Selain Indonesian Idol, Gong Show pun menarik perhatian para pengamen tersebut, khususnya Guntur. Dalam percakapan menggunakan bahasa Sunda dengan kawannya sesama violis, ia mengungkapkan pendapatnya mengenai salah seorang kontestan yang menggesekkan biola menggunakan mulutnya. Menurut Guntur, temannya jauh lebih jago, dan mengusulkan untuk menggunakan perut untuk memegang tongkat penggesek biola.

Keberadaan reality show, tampaknya cukup menggiurkan para pengamen jalanan tersebut. Apalagi menurut Dani, Rejeki Nomplok pernah diperoleh penjual keripik depan rumah makan Masakan Padang(seberang Circle K) yang kemudian digunakan untuk biaya pesta pernikahan putrinya, serta Super Deal 2 milyar pernah diperoleh orang-orang simpang lainnya, membuat pikiran untuk memperoleh uang dengan mudah cukup menggiurkan. ”Gimana ya teh, caranya supaya bisa ikutan?” tanya Dani.

Penetrasi berbagai pengaruh televisi dan budaya tak hanya tampak dari perbincangan mengenai tayangan reality show. Gaya busana menjadi salah ciri para pengamen di simpang Dago. Tindik, tato menjadi hal lumrah di kalangan para pengamen. Dengan cat rambut yang dibeli kemudian dioleskan sendiri, rambut pirang, merah, dan biru menjadi bagian dari identitas mereka sebagai pengamen jalanan. Begitupula dengan tindik yang dilakukan secara mandiri tanpa bantuan ahli, ”Kalau di tempat khusus mahal, paling kalo ngga sendiri, sama teman,” ujar Obi saat saya tanya mengenai tindik di kuping dan dagunya.

Selain warna, gaya rambut mereka pada umumnya juga khas. Entah mengikuti gaya Korea/Taiwan, cepak dengan poni sedikit memanjang ke depan dan rambut di bagian depan kuping, tipis di bagian pinggir dan memanjang di bagian tengah (seperti Punk hanya saja bagian tengahnya tidak meruncing ke atas) ataupun tanpa mode tertentu hanya saja diwarna. Ada juga yang tergila-gila dengan Glenn Fredly(seperti yang diungkapkan Dede) sehingga kepalanya cukup dihiasi topi pet ala Glenn.

Celana jeans, baju kaos dan sepatu kets menjadi busana yang rata-rata dipilih oleh para pengamen tersebut. Paduan jeans dan kaos itu kadang dipadu jaket jeans sebagaimana yang dilakukan Guntur, jaket kain coklat Dani, ataupun jaket hijau lumut yang dikenakan Dede. Selain itu, ada juga variasi mencolok seperti celana selutut putih yang digunakan oleh penggemar Glenn, ataupun celana batik selutut yang digunakan Feri.

Proses imitasi terhadap aktor pujaan ataupun terhadap gaya perlawanan(atribut hitam, tindik, dan tato) tampak mendominasi pemilihan busana dan aksesoris mereka. Meski demikian, identitas mereka masih terlihat dari gaya bicara. Sebagaimana penampilan Obi dengan pakaian serba hitam, dari topi hingga ujung kaki, tindik tiga di kuping, satu di dagu, tapi menyebut dirinya sendiri dengan Obi, serta masih tinggal bersama orangtua. Pengamen berusia 22 tahun ini juga malu jika sampai terlihat tetangga. Pemilihan kata juga membedakan mereka. Jika para pengamen lainnya lebih memilih menggunakan kata ganti dengan menyebut nama atau saya, Acil menggunakan kata ganti aku, dan dari segi pemilihan kata pun yang diucapkannya relatif baku.

”Kalau orang ngeliat mah jelek. Tapi kalo disini buat iseng,” jawab Obi ketika saya tanya alasannya menindik kuping dan dagunya. Ketika saya tanya kembali, kenapa isengnya dengan cara tindik, ia hanya tertawa. Relasi antara tindik, dan tato terhadap bentuk perlawanan atas kemapanan maupun penguasaan tubuh tak tampak dari obrolan, yang ada hanyalah iseng, gaya dan diajak oleh teman. Tak heran, rekan Obi dalam mengamen juga memiliki atribut serupa. Begitupula Dede yang tampak menjadi salah satu tokoh panutan bagi pengamen dibawah usainya, beberapa tindik tampak menghiasi kupingnya.

Layaknya musisi di televisi yang memiliki pengarah busana, gaya, dan panggung tersendiri, para pengamen ini melakukan semuanya secara mandiri dan penuh kesungguhan. Hal ini tampak dari unjuk kebolehan dalam panggung berlatar mobil menjadi salah satu cara mengekspresikan keindahan. Dengan biola dijepit di bawah dagu dan sikap berdiri tegak, seorang violis berpakaian serba hitam menunjukan kebolehannya memainkan partitur lagu. Sesudah jam masuk kerja di pagi hari berlalu, frekuensi kendaraan di jalan memang mulai berkurang, saat-saat seperti itulah yang digunakan oleh pengamen untuk unjuk kebolehan, bercengkrama, atau juga menjemur biola. Menurut Dede, udara malam yang dingin menyebabkan suara biola tidak bagus, sehingga harus dijemur dulu agar suaranya keluar. Kualitas suara juga dijaga dengan mengecek kunci nada sebelum mulai mengamen.

Kepekaan mereka terhadap musik tak hanya tampak dari perlakuan mereka terhadap biola ataupun gitar, tapi juga ketika bernyanyi. Ketika angkutan tak mengangkut penumpang, mereka lebih memilih bernyanyi di pinggir jalan, ataupun memainkan alat musik dengan keadaan yang nyaris magis. Raut becanda saat bercengkrama berganti wajah penuh kesungguhan. Perubahan ini terutama tampak mencolok di antara para violis. Tak heran kemampuan mereka juga diakui oleh berbagai kalangan. Selain panggilan untuk bermusik, menurut penuturan Abah, Guntur juga menjadi guru les biola.

Kemampuan, pengakuan dan kesungguhan telah menjadikan penampilan mereka memikat. Sebuah reality show yang hadir dalam versi dekat dan personal, dimana penumpang angkot sebagai penonton/konsumen mempersepsi pengamen dengan segala atribut dan citra yang melekat pada diri mereka kemudian melakukan sebuah aksi, entah menepis gelas yang disodorkan atau merogoh saku.

Resistensi

Penolakan yang kadang mereka peroleh dari penumpang angkot tak menyurutkan langkah mereka. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Dede mengenai rejeki, ”Rizki pasti semua orang dapet.” Keyakinan itu pula yang tampaknya diamini oleh para pengamen untuk terus berada di jalan. Feri misalnya, pernah mendapat tawaran pekerjaan di Jambi. Namun tawaran itu ditepisnya dengan alasan jauh dan istri yang tidak mengizinkan.

Selain panggilan kerja yang dijadikan tumpuan harapan untuk mengubah kehidupan mereka menjadi lebih mapan, yayasan pun pernah turun tangan. Dani menuturkan, belum lama ini Amir, perwakilan dari yayasan, memberikan pelatihan bahasa Inggris kepada pengamen jalanan. Pelatihan itu berdurasi 10 hari, dengan alokasi dana 10 juta, ”Daripada pelajaran bahasa Inggris, mending pengamen di sini ditanyain maunya apa. Kalau ngga uangnya dikasihin aja langsung, biar bisa dipakai untuk beli kebutuhan rumah tangga,” ujar Dani.

Pelatihan dalam bentuk lain juga pernah diberikan kepada Guntur dan Acil dari sebuah yayasan, namun keduanya tetap saja kembali ke jalan. Selain pelatihan, adapula yayasan yang membentuk rumah singgah, seperti yayasan Garis di Dago atas, dan Babakan Siliwangi sebelum terbakar, namun keduanya kini sudah tidak aktif. Perhatian kepada pengamen jalanan juga kadang dari anggota masyarakat secara independen. Seperti yang diceritakan pak Asep mengenai ibu yang minimal sebulan sekali mengajak pengamen-pengamen di simpang untuk makan enak. Terakhir kali ibu tersebut mengajak para pengamen tersebut makan di McD.

Perhatian dan bantuan yang diberikan kepada pengamen memiliki dua sisi, pertama dari sisi kemanusiaan yaitu anggapan bahwa mereka memang harus ditolong, disisi lain, bantuan tersebut juga sekaligus mengukuhkan profesi mereka di tengah masyarakat. Meski Adin mengaku mengamen hanya iseng, atau Dani mengatakan masih senantiasa mengharap pekerjaan tetap, tapi mengamen secara tidak sadar telah menjadi profesi dan ada kebanggan atasnya. Dani misalnya membandingkan pengamen dengan pengemis, ”Orang biasanya jauh lebih kasian ngeliat pengemis. Pengemis penghasilannya bisa sampai 100 ribu per hari.”

Pembedaan ini juga digarisbawahi Dede ketika mengeluhkan adanya stigma negatif terhadap pengamen. ”Pengamen dan pencuri itu berbeda. Kita pernah rame-rame gebukin maling, karena bikin nama kita cemar.”

Neverland: The Land Where There’s No Tommorow
Begitulah J.M Barrie menciptakan sebuah pulau fiksi milik Peterpan. Di pulau tersebut, anak-anak tak pernah beranjak dewasa, yang ada hanyalah permainan dan bersenang-senang. Kata-kata itu pulalah yang mungkin pantas disematkan kepada komunitas pengamen simpang Dago, tempat dimana orang-orang dari berbagai latar belakang, dan daerah berkumpul untuk mengadu nasib. Ada persaingan memperebutkan angkot, ada persahabatan, ada minum kopi dari gelas yang sama, ada suka, ada duka, ada rokok, tapi tak ada hari esok.

Selain lamaran yang terus dikirimkan, mereka tak tahu apa yang akan mereka lakukan di hari esok selain mengamen di jalan. Terus berharap pada para penderma untuk menyisihkan sebagian uang untuk mereka, atau bermimpi mendapat uang sekejap dari ajang instan semisal Indonesian Idol atau Super Deal 2 milyar. Masa depan menjadi sesuatu yang asing, sebagaimana yang saya tanyakan ke Dani mengenai hari tuanya, ”Ngga tau, teh,” ujarnya.

Citra asyik, mudah, kebersamaan, dan tidak ada kesempatan berbaur menjadi sebuah pembenaran akan keberadaan mereka di jalan. Rasa malu yang mulanya membayang, ketakutan mengecewakan orangtua perlahan memudar seiring dengan berjalannya waktu. Pendidikan formal SMP hingga SMA yang mereka miliki kini tinggal bayangan. Ada yang terus berharap mendapat kerja dengan mengirimkan lamaran, namun ada juga yang menolak dengan alasan tidak menguntungkan.

Roda kehidupan yang mulanya serba tak pasti, kini perlahan menampilkan wajah serupa. Ajakan kawan di mula, berganti menjadi keasyikan profesi mengamen hingga akhirnya lupa kenapa mereka ada di sana. Frekuensi jarang yang sebelumnya diberi label selingan, beralih menjadi keseharian. Kerja kontrak, panggilan untuk mengisi suatu acara memang memberi warna, namun jalanan tetap yang utama, sesuatu yang mapan dan dapat diandalkan.
Menjadi pengamen berarti bermain, terhadap harga kebutuhan yang terus merangkak naik, uang masuk sekolah, pendapatan sehari-hari, dan yang lebih utama, bermain dengan waktu. Jika Neverland mengekalkan usia Peter Pan, maka ’Neverland simpang Dago’ memiliki kisah yang berbeda. Canda, umpatan yang disertai derai tawa, kebersamaan, show off, memang terus mewarnai kehidupan mereka, namun usia mereka tak kekal. Dengan tubuh yang merenta, suara yang tak lagi prima, kaki yang menua, akhirnya permainan harus berhenti. Ketika itu terjadi, pertanyaan yang harus dijawb adalah mampukah mereka meninggalkan Neverland dan beranjak dewasa, atau membiarkan waktu menelan mereka dalam perubahan?[]

Matematika yang Ramah

7 Dec

Jangankan mengerjakannya, melihat susunan angka dan variabel yang tertulis di dalam soal saja membuat Dewi Sutriatni (18) sebal. Pelajar Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 16 Kota Bandung ini sejak di sekolah dasar sudah membenci Matematika(Kompas Jabar, 13/03/06). Kebencian Dewi terhadap Matematika, juga dirasakan oleh banyak siswa-siswi SD-SMA lainnya. Alasan yang kerap mereka lontarkan adalah Matematika itu rumit, abstrak, dan sulit.

Jurang Komunikasi
Citra Matematika sebagai bidang yang rumit, abstrak, dan sulit bisa jadi disebabkan karena penggunaan simbol-simbol ‘aneh.’ Penggunaan simbol-simbol ini pada dasarnya hanya untuk menyederhanakan bentuk. Penulisan 5+5+5+5 misalnya, dapat disederhanakan dalam bentuk 4 x 5, yang artinya terdapat angka 5 sebanyak 4 buah. Penulisan simbol-simbol Matematika dalam bahasa sehari-hari pernah dilakukan oleh ahli filsafat abad ke-18, Etienne de Condillac dalam buku Langue des Calculs(Bahasa Komputer). Ia mencoba menyatakan dua baris aljabar memakai bahasa Perancis yang sederhana. Hasilnya, ia membutuhkan dua halaman yang ketika dibaca pun sama sekali tidak mudah.

Apa yang dilakukan oleh Condillac merupakan salah satu usaha untuk menjembatani komunikasi antara Matematikawan dan atau ilmuwan, dengan orang awam. Hanya saja usaha ini mungkin tak sepenuhnya bermanfaat. Pertama, meski simbol-simbol matematis tersebut bisa dinyatakan dalam bahasa sederhana, makna yang terkandung di dalamnya masih relatif abstrak bagi orang awam. Konsep integral yang digunakan untuk menghitung luas daerah di bawah kurva pada selang tertentu misalnya, secara sederhana dapat diilustrasikan dengan membagi selang menjadi bagian-bagian sangat kecil, kemudian integral adalah penjumlahan dari luas bagian-bagian sangat kecil tersebut. Bagi orang yang terbiasa berhubungan dengan simbol-simbol Matematika, penjelasan ini dapat menambah pemahaman. Namun bagi orang yang tidak terbiasa, keterangan tambahan ini bisa jadi sama abstraknya dengan integral itu sendiri.

Kedua, persamaan matematis yang kompleks tidak hanya dipengaruhi oleh faktor internal. Sebagaimana yang dituliskan dalam Wikipedia Indonesia mengenai Matematika, kian kompleks suatu fenomena, kian kompleks pula model Matematikanya, dan begitu pula sebaliknya. Untuk fenomena sederhana seperti menghitung pengeluaran keuangan bulanan misalnya, kita cukup menggunakan aritmatika(ilmu hitung) yang sederhana. Hubungan berbanding lurus antara Matematika dengan fenomena alam, menyebabkan penerjemahan notasi Matematika kedalam bahasa sehari-hari menjadi tidak efisien.

Adanya perbedaan bahasa yang digunakan oleh Matematikawan untuk menjelaskan fenomena alam dengan bahasa sehari-hari, menciptakan jurang komunikasi yang memungkinkan timbulnya prasangka. Hal ini diungkapkan oleh Dr. Iwan Pranoto(pemerhati pendidikan Matematika dan dosen pada Program Studi Matematika Institut Teknologi Bandung) dalam Semiloka Mengatasi Fobia Matematika pada Anak di Bandung, “Matematika itu tidak sulit. Masalahnya, banyak orang tidak dapat berMatematika secara optimum gara-gara takut terhadap Matematika. Ketakutan tersebut membuat mereka enggan belajar bahkan menjadi antipati”(Kompas Jabar, 16/08/04).

Psikolog Alva Handayani pada kesempatan yang sama juga menguatkan pendapat tersebut, “Munculnya fobia Matematika juga disebabkan sugesti yang tertanam dalam benak seorang anak bahwa Matematika itu sulit. Sugesti tersebut muncul dari orang-orang sekitar yang mengatakan Matematika itu sulit” (Kompas Jabar, 16/08/04).

Lebih jauh, Schoenfeld dalam buku “Learning to think mathematically: Problem solving, metacognition and sense making in mathematics” Continue reading

Hello world!

4 Dec

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!